Touring ke Bali

Petualangan Tanpa Henti: Dari Ijen ke Bali, Cerita Kita


Setelah petualangan yang mengesankan di Baluran (lihat disini) dan di Blue Fire Gunung ijen (lihat disini), kami tiba di rumah singgah dengan kelelahan yang tersisa. Topan dan Dika, yang sempat terjatuh dari motor dan masih merasakan sedikit sakit, langsung memutuskan untuk balas dendam dengan tidur semalaman. Tidak ada yang bisa menghalangi mereka untuk tidur pulas—bagaimanapun, besok adalah hari baru dan kami sudah merencanakan untuk menyebrang ke Pulau Bali. Sementara itu, kami yang masih terjaga sibuk merencanakan perjalanan hari berikutnya.

“Eh, besok kita harus bangun jam berapa?” tanya Ardi sambil menyiapkan perlengkapan motor.
“Jangan khawatir, jam 5 pagi udah harus siap berangkat,” jawabku, memandangi jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
“Serius nih? Bentar lagi aku jatuh tidur juga,” sahut Dika, sambil menguap lebar.
Kami semua tertawa, mengetahui bahwa kami semua sudah sangat lelah setelah perjalanan panjang sebelumnya.

TN Baluran

Perjalanan Seru di Baluran: Dari Padang Savana hingga Sunset Pantai Bama


Setelah menyelesaikan pendakian di Gunung Ijen, aku, Dika, Topan, Ardi, dan Rio—merasa lelah tapi puas. Keindahan kawah biru dan api belerang yang menggelegak di Ijen benar-benar membuat kami terkesan (cerita sebelumnya dapat dilihat disini). Namun, seperti biasa, rasa lelah kami tidak berlangsung lama. Kami tahu petualangan kami belum selesai. Masih ada banyak tempat menakjubkan yang harus kami jelajahi. Jadi, setelah beristirahat sejenak dan merawat luka kecil yang dialami Topan dan Dika karena terjatuh dari motor tadi pagi, kami kembali melanjutkan perjalanan.
Sekitar pukul 14:00, kami mulai melaju menuju Taman Nasional Baluran di Situbondo, tujuan berikutnya yang sudah lama kami impikan untuk dikunjungi. Kami masih cukup energik, meskipun beberapa dari kami mulai merasakan kelelahan setelah pendakian. Perjalanan dari Ijen menuju Baluran memang memakan waktu beberapa jam, tetapi perjalanan ini justru memberikan kesempatan untuk menikmati pemandangan alam yang luar biasa.

Gereja Inkulturasi Pangururan

 Gereja St. Mikael Inkulturasi Budaya Batak di Pangururan


Inkulturasi dalam Gereja Katolik adalah proses penyesuaian ajaran Gereja Katolik dengan kebudayaan lokal, dengan sedemikian rupa sehingga nilai-nilai Injil dapat diungkapkan dengan lebih jelas di dalam unsur-unsur kebudayaan bersangkutan, melainkan juga menjadi kekuatan yang menjiwai, mengarahkan, dan memperbaharui kebudayaan bersangkutan, dan dengan demikian menciptakan suatu kesatuan dan ‘communio’ baru, tidak hanya di dalam kebudayaan tersebut, melainkan juga sebagai unsur yang memperkaya Gereja sejagat. Inkulturasi juga bertujuan agar umat dapat lebih mudah memahami dan berpartisipasi secara aktif dalam ibadah. Sebagai contoh inkulturasi dalam Gereja katolik seperti Arsitektur, Ornamen, Seni, Kitab suci, dll.

Pantai Tanah Lot

 Pantai Tanah Lot, Pintu Gerbang Wisata Spiritual Bali


Kalau berlibur atau berkunjung ke Pulau Bali, pasti memasukkan Tanah Lot sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi, karena bagi para wisatwan, Keindahan Tanah Lot merupakan suatu perpaduan alam laut yang indah dan romatisme pulau bali yang begitu kental. Seperti namanya, Tanah Lot memang memiliki setting lepas pantai yang unik. Nama “Tanah Lot” berasal dari bahasa Bali, yang terdiri dari dua kata: “tanah,” yang berarti “daratan,” dan “lot,” yang berarti “laut.” Dengan demikian, Tanah Lot dapat saya artikan sebagai “ibu pertiwi di lautan” atau “daratan yang dikelilingi lautan.” Tentunya, nama ini mengacu pada pemandangan unik yang terletak pada pura yang yang berdiri kokoh terletak di atas batu karang lepas pantai yang tampak mengambang di lautan saat pasang tinggi dan dihantam deburan ombak dilautan lepas. memberikan kesan sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh laut. Tanah Lot menawarkan pemandangan spektakuler yang mampu memikat siapa saja yang datang.
 

Wisata Banyuwangi

Petualangan di Ujung Timur Pulau Jawa: Api Biru dan Sunrise di Puncak Gunung Ijen


Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya dan tiga teman dekat—Dika, Topan, dan Ardi—merencanakan perjalanan yang sudah lama kami impikan: menuju ujung timur Pulau Jawa, tepatnya ke Banyuwangi. Tujuan utama kami adalah menyaksikan api biru yang legendaris di Gunung Ijen dan menikmati sunrise yang memukau di puncaknya. Selain itu, kami juga ingin mengeksplorasi Taman Nasional Baluran yang terkenal dengan sabana luasnya. Semuanya penuh semangat, dan tak sabar menunggu petualangan dimulai.

Perjalanan Dimulai: Semarang ke Yogyakarta

Perjalanan kami dimulai dengan melaju dari Semarang pada malam hari. Kami mengendarai motor, melewati raya yang relatif sepi, diterangi lampu jalan yang panjang. Di sepanjang perjalanan, tawa dan cerita lucu mengalir begitu saja, dari obrolan tentang destinasi yang akan kami tuju, hingga kenangan masa lalu yang selalu membuat kami tertawa. Namun, begitu kami memasuki daerah Ambarawa, hujan deras tiba-tiba mengguyur. Dalam hitungan detik, jalanan menjadi licin dan kami segera mencari tempat berteduh. Kami berlabuh di Indomaret, membeli jas hujan plastik sekali pakai yang terlihat lebih besar daripada tubuh kami. Masing-masing dari kami mengenakan jas hujan, meski tampak lucu karena jas hujan itu kebesaran.

Candi Ijo

Candi Ijo, Candi tertinggi di DIY


Apabila anda menyusuri candi-candi di Prambanan, ada berderet candi-candi peninggalan yang dimulai dari abad ke-9, baik Candi Hindu, Buddha maupun percampuran nya, Candi yang berukuran besar maupun candi kecil. Candi di daerah perbatasan DIY dan Klaten ini contohnya, Candi Prambanan, Candi Plaosan, Candi Bubrah, Candi Lumbung, Candi Sewu, Candi Barong, Candi Banyunibo, Candi Ratu Boko dan Candi Ijo. Candi Ijo tidak jauh dari Candi Ratu Boko. candi ini berjarak sekitar 4km ke arah tenggara. Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY Candi ini berada lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian perbukitan Batur Agung. Posisinya berada pada lereng bukit dengan ketinggian rata-rata 425 meter di atas permukaan laut. Candi ini dinamakan "Ijo" karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo. oleh karena ketinggiannya ini, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan yang curam. pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati.

Candi Sari

Candi Sari, Biara pendeta Buddha


Candi Sari atau sering juga disebut Candi Bendah adalah candi peninggalan agama Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Sambi Sari, Candi Kalasan dan Candi Prambanan. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Pada bagian atas candi ini terdapat 9 buah stupa seperti yang tampak pada stupa di Candi Borobudur, dan tersusun dalam 3 deretan sejajar.

Candi ini secara administratif berada di Dusun Bendan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Candi ini dibangun hampir bersamaan dengan Candi Kalasan.yaitu pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Keterkaitan kedua candi ini diterangkan dalam Prasasti Kalasan (700 tahun Saka / 778 M). Dalam Prasasti Kalasan diterangkan bahwa para penasihat keagamaan Wangsa Syailendra telah menyarankan agar Maharaja Tejapurnama Panangkarana, yang diperkirakan adalah Rakai Panangkaran, mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara dan sebuah biara untuk pendeta Buddha. Untuk pemujaan Dewi Tara dibangunlah Candi Kalasan, sedangkan untuk biara pendeta Buddha dibangunlah Candi Sari. Melihat dari bentuk keseluruhan dan bagian-bagian dalam Candi Sari, diperkirakan candi ini berfungsi sebagai asrama atau tempat tinggal para pendeta Buddha. hal ini lebih didasarkan pada kesamaan pola hias  serta keberadaan Bajralepa. Candi Sari merupakan salah satu candi yang unik dari sisi arsitektur yakni menampakkan bangunan bertingkat. Bangunan candi  bertingkat yang lain adalah Candi Plaosan di Prambanan, Jawa Tengah.