Kehangatan Labuan Bajo: Mengarungi Laut dan Menyusuri Senja di Flores
Hari itu Kamis pagi yang cerah, dan aku sedang duduk di salah satu bangku kayu di Biara CSA Ruteng, (lokasi lihat disini) menyadari bahwa hari ke-4 di Ruteng ini akan segera berakhir. Sambil menatap pemandangan sekitar di kota ini, aku merasakan ketenangan yang luar biasa—sangat berbeda dari hiruk-pikuk dunia luar yang biasa aku alami. Seperti sejenak bisa berhenti sejenak dari perjalanan panjang yang sudah dimulai sejak hari pertama di timur Indonesia.
Setelah mengikuti kegiatan komunitas di biara yang cukup menginspirasi, aku duduk bersama Bruder Bayu dan Bruder lainnya. Kami menikmati sarapan pagi yang sederhana namun penuh makna—Sarapan pagi sederhana, nasi goreng dan telur dadar, dan secangkir kopi hangat yang rasanya lebih nikmat dari biasanya.
"Jadi, kamu mau lanjut ke Labuan Bajo?" tanya Bruder Bayu, mata berbinar seolah sudah tahu jawaban dariku.
"Yap, hari ini saya mau melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Labuan Bajo," jawabku sambil menyesap kopi.