Tawanan Benteng Lapis Tujuh: Novel-Biografi Ibnu Sina

Kisah Hidup Ibnu Sina: Jenius, Filsuf, dan Dokter Muslim yang Abadi


Buku Tawanan Benteng Lapis Tujuh bukan sekadar biografi, melainkan sebuah novel sejarah yang menghidupkan kembali perjalanan hidup Ibnu Sina—seorang jenius dari dunia Islam abad pertengahan. Ia dikenal sebagai Avicenna di Barat, sang “Bapak Kedokteran Modern” yang karyanya Al-Qanun fi al-Thibb menjadi rujukan selama ratusan tahun.

Namun, buku ini tidak hanya menyoroti karya ilmiahnya, tetapi juga sisi manusiawinya: pergulatan batin, perjalanan intelektual, hingga masa pengasingan dan penjara yang harus ia jalani. Melalui alur dramatik, pembaca diajak menyelami dunia politik, filsafat, dan kedokteran di tengah gejolak zaman.

Tawanan Benteng Lapis Tujuh

Bab I – Awal Kehidupan

Menggambarkan masa kecil Ibnu Sina di Bukhara. Anak ajaib ini sudah menguasai Al-Qur’an di usia muda, sebelum kemudian mendalami filsafat, matematika, logika, dan kedokteran.

Bab II – Sang Tabib Muda

Ibnu Sina terkenal karena kecerdasannya menyembuhkan para bangsawan dan pejabat. Ketenarannya membuatnya masuk dalam lingkaran elit, tetapi juga menimbulkan iri dan intrik politik.

Bab III – Jalan Filsafat

Di sini dituturkan pertemuan Ibnu Sina dengan pemikiran filsafat Yunani—Aristoteles, Plato—yang kemudian ia sintesis dengan ajaran Islam. Pemikirannya tentang jiwa, logika, dan metafisika menjadikan dirinya tokoh besar dalam khazanah intelektual dunia.

Bab IV – Karya Abadi

Dibahas bagaimana Al-Qanun fi al-Thibb lahir sebagai ensiklopedia kedokteran, mencakup anatomi, penyakit, dan obat-obatan. Karya ini menjadi acuan universitas-universitas Eropa selama berabad-abad.

Bab V – Tawanan Benteng

Inilah bagian paling dramatik: Ibnu Sina ditangkap karena intrik politik dan dijebloskan ke penjara di sebuah benteng yang terkenal sulit ditembus, “Benteng Lapis Tujuh”. Di balik jeruji itulah ia menulis, merenung, dan menorehkan karya besar yang lahir dari keterbatasan.

Bab VI – Warisan Abadi

Buku ditutup dengan refleksi: meski wafat di usia 57 tahun, warisan Ibnu Sina tetap hidup. Dari kedokteran, filsafat, hingga etika keilmuan, namanya tercatat sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia.