Jakarta ke Penjuru Nusantara: Kisah Berita Kemerdekaan yang Menggetarkan
Buku ini merekam momen penting: bagaimana berita proklamasi kemerdekaan tidak hanya bergema di Jakarta, tapi menjalar hingga ke pelosok Nusantara—Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, bahkan Irian Barat. Setiap bab menggambarkan denyut perjuangan rakyat, ketegangan politik, hingga harapan yang menggelora.
Buku ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah berita sederhana—proklamasi kemerdekaan—menjadi nyawa bagi bangsa. Setiap daerah punya cerita sendiri: ada yang menerima dengan gegap gempita, ada yang menolak, dan ada yang berdarah-darah memperjuangkannya. Semua berpadu menjadi mosaik besar lahirnya Indonesia.
![]() |
| Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia |
Bab I – Konsolidasi dan Persiapan Kemerdekaan
Merekam detik-detik menjelang proklamasi: penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, perumusan teks proklamasi, hingga pembacaan di Pegangsaan Timur. Suasana genting bercampur harap: sebuah bangsa lahir di tengah tekanan Jepang yang baru kalah.
Bab II – Sumatera
Berita kemerdekaan sampai dengan penuh risiko: melalui radio, kurir, bahkan bisikan rahasia. Tokoh-tokoh muda melawan keraguan para elit tua, sementara sebagian bangsawan menolak Republik. Dari Medan hingga Sibolga, semangat kemerdekaan merebak di tengah ketakutan akan Belanda yang ingin kembali.
Bab III – Jawa Barat
Daerah dengan denyut industri ini menyambut kemerdekaan dengan penuh dilema: pemuda bergerak cepat, sementara pejabat lama masih ragu. Pers dan media memainkan peran penting, menyalakan api nasionalisme di Bandung, Bekasi, hingga pedalaman.
Bab IV – Jawa Tengah
Jaringan kereta api, media, dan pergerakan pemuda menjadikan Jawa Tengah sebagai wilayah yang paling cepat merespons. Kota-kota seperti Yogyakarta, Semarang, dan Pekalongan menjadi pusat perlawanan sekaligus perayaan kemerdekaan.
Bab V – Surabaya
Inilah bab penuh heroisme. Radio, pers, dan semangat arek-arek Suroboyo menjadi pengobar revolusi. Dari insiden bendera di Hotel Yamato hingga lahirnya RRI Surabaya, bab ini mengisahkan bagaimana kota pelabuhan itu menjadi simbol perlawanan.
Bab VI – Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara)
Sunda Kecil merespons dengan cara unik: long march gerilya dari Gunung Batukaru ke Gunung Agung, hingga perang heroik Puputan Margarana. Di sinilah proklamasi menjadi nyata lewat darah dan pengorbanan.
Bab VII – Kalimantan
Berita kemerdekaan menembus larangan radio Jepang. Rakyat Dayak dan tokoh-tokoh lokal mengambil alih kendali, meski Belanda mencoba kembali dengan propaganda dan pembagian wilayah.
Bab VIII – Sulawesi
Di Sulawesi, berita proklamasi datang lewat pamflet Sekutu yang dilempar dari pesawat. Gerakan rakyat pun tumbuh, dari Poso hingga Makassar. Meski penuh represi Jepang, kabar kemerdekaan menjadi api perlawanan.
Bab IX – Maluku dan Irian Barat
Kabar kemerdekaan baru sampai belakangan, tapi semangat kesatuan langsung menyala. Dari Ambon hingga Serui, tokoh-tokoh lokal membentuk komite rakyat. Irian Barat pun disebut langsung dalam pidato Soekarno, “Dari Aceh sampai Merauke”.
