Nabi-Nabi Nusantara: Kisah Lia Eden dan Lainnya

Nabi-Nabi Nusantara: Kisah Lia Eden dan Lainnya


Nabi-Nabi Nusantara mengajak kita “tur sejarah kenabian” di tanah air tentu bukan Kenabian dalam tafsir ortodoks, melainkan kisah orang-orang seperti Lia Eden, pendiri Kerajaan Eden, yang mengklaim mendapat wahyu dan menyulap dirinya sebagai nabi modern. Dengan latar menjadi akademisi sosiologi agama dan rektor UIN Sunan Kalijaga, Al Makin berusaha menjelaskan fenomena ini sebagai bagian sosial-religius Nusantara, bukan sekadar kasus sesat. Dalam narasi penuh empati, buku ini mencoba memahami “mengapa orang Indonesia suka jadi nabi,” dengan hormat, tetapi tidak tanpa celah sarkastisnya—seolah bertanya: “Apakah pancasila mencakup hak jadi nabi juga?”

Nabi-Nabi Nusantara

Isi & Sorotan Setiap Bagian

Pendahuluan: Nabi Nusantara, Bukan dari Arab

Al Makin membuka dengan pengakuan pribadi: seperti musafir yang pulang, ia mendalami liku keagamaan lokal dengan antusias menyelami fenomena nabi pribumi seperti Lia, Samin, Parmalim, dan lainnya. Bahasannya humanis dan penuh kejutan tapi juga memberi rasa: “Oke, ada banyak nabi lokal, tapi… nyata banget ya?”

Bab 2–4: Definisi Kenabian dan Lia Eden

Dijelaskan bahwa menurut teori Weber, ‘kharisma’ dan ‘wahyu Ilahi’ menjadi kriterianya. Lia Eden cocok dengan definisi ini dia mendirikan komunitas Keagamaan Eden dan dianggap sebagai “pembawa wahyu.” Surat-surat Jibril dan bentuk ibadah “Nabi-Nabi Nusantara” dibahas. Nuansanya sangat serius tapi tetap muncul bug: “Tuhan bilang lewat sms?”

Lampiran Nabi-Lokal vs Sejarah Indonesia

Buku menghadirkan lampiran panjang: nabi era kolonial, kemerdekaan, sampai Orde Baru. Dari Samin Surosentiko hingga Amaq Bakri, mereka semua dibahas sebagai wujud pencarian spiritual di luar mainstream. Al Makin menunjukkan pluralisme yang kaya tapi pembaca tertawa geli saat melihat hingga republic zaman reformasi masih diselipi drama nabi-nabi “dadakan.”

Bab Puluhan: Konflik dengan Orthodoksi

Kisah Lia Eden dan pengikutnya yang ditentang MUI dan aparat menjadi sorotan serius. Fakta kriminalisasi, tekanan hukum, hingga stigma sosial mengalir dalam narasi. Disampaikan penuh simpati tapi kadang pembaca berseloroh: “Wah, jadi nabi modern ternyata lebih sering ditahan daripada dihormati.”