Muhammad: Prophet for Our Time

Muhammad: Prophet for Our Time – Menyibak Wajah Kemanusiaan Sang Nabi


Bayangkan jazirah Arab abad ke-6: gurun tandus, suku-suku yang terpecah, kekerasan yang jadi bahasa sehari-hari, dan kesenjangan yang merajalela. Di tengah dunia seperti itu lahirlah Muhammad ﷺ—seorang yatim yang kemudian dikenal sebagai al-Amin, sosok terpercaya. Inilah kisah yang dihidupkan Karen Armstrong dalam bukunya Muhammad: Prophet for Our Time.

Armstrong menulis dengan empati dan riset mendalam. Ia tidak sekadar menceritakan perjalanan hidup Nabi, tapi juga menjawab pertanyaan besar dunia modern: apakah Islam agama kekerasan? Jawaban Armstrong tegas: tidak. Islam lahir untuk membangun keadilan, kasih sayang, dan solidaritas—pesan yang sangat relevan hingga hari ini.

Muhammad: Prophet for Our Time


Isi dan Poin Penting Tiap Bab

1. Arab Pra-Islam: Dunia yang Keras

Armstrong membuka dengan potret Mekkah sebelum Islam: sistem kabilah yang penuh dendam, ekonomi yang timpang, dan kepercayaan politeis. Masyarakat butuh perubahan besar, dan kehadiran Muhammad ﷺ menjadi jawaban sejarah.

2. Kelahiran, Masa Muda, dan Panggilan

Dari masa kecil sebagai yatim, bekerja sebagai penggembala dan pedagang, hingga menikah dengan Khadijah. Armstrong menekankan reputasi Nabi sebagai sosok jujur dan terpercaya. Titik balik terjadi di Gua Hira saat wahyu pertama turun—peristiwa yang mengguncang dirinya dan masyarakatnya.

3. Mekkah: Penolakan dan Tantangan

Pesan tauhid yang disampaikan Nabi mengusik status quo Quraisy. Armstrong menggambarkan bagaimana intimidasi, siksaan, dan boikot diterima kaum Muslim awal. Namun, keyakinan Nabi pada risalahnya tak tergoyahkan.

4. Hijrah dan Komunitas Baru di Madinah

Hijrah ke Madinah bukan sekadar perpindahan, tapi transformasi sosial-politik. Nabi menyusun Piagam Madinah, sebuah kontrak sosial yang menjamin hak Muslim, Yahudi, dan kelompok lain untuk hidup berdampingan.

5. Perang, Diplomasi, dan Kemenangan

Perang Badar, Uhud, hingga Khandaq bukan agresi, melainkan pertahanan diri. Armstrong menyoroti bagaimana Nabi selalu mencari jalan damai—puncaknya saat Fathu Makkah, ketika beliau menaklukkan kota kelahirannya dengan pengampunan, bukan pembalasan.

6. Pesan Universal

Armstrong menutup dengan refleksi: Islam bukan agama kekerasan, melainkan rahmat. Nabi Muhammad ﷺ diposisikan sebagai figur yang relevan untuk zaman modern—teladan tentang keadilan sosial, empati, dan kasih sayang.