Misteri Peradaban di Balik Candi Cetho, Sukuh, dan Penataran
Di tanah Jawa, candi bukan sekadar peninggalan sejarah. Ia adalah kitab batu yang menyimpan misteri. Buku Misteri di Candi Cetho, Candi Sukuh, dan Candi Penataran mengajak kita menjelajahi sisi-sisi tersembunyi dari tiga candi yang terletak di lereng gunung Jawa, namun penuh teka-teki global. Dari Sumeria hingga Maya, dari Romawi hingga Mesir—ada jejak yang seakan-akan bertaut dengan Nusantara ribuan tahun silam.
![]() |
| Misteri di Candi Cetho, Candi Sukuh, dan Candi Penataran |
Isi & Poin-Poin Penting Tiap Bab
1. Candi Cetho: Jejak Sumeria di Jawa
Candi di lereng Gunung Lawu ini berbeda dengan candi Majapahit. Batu kali sederhana, patung wajah asing, hingga perhiasan mirip jam tangan khas bangsawan Sumeria. Mengapa patung-patung ini lebih menyerupai Sumeria, Viking, atau Romawi daripada orang Jawa? Apakah leluhur Nusantara sudah berhubungan dengan peradaban dunia ribuan tahun lalu?
2. Candi Sukuh: Anunnaki, Manusia Bersayap, dan Dunia Maya
Tak jauh dari Cetho, Sukuh menghadirkan relief manusia bersayap dan berkepala hewan. Kemiripannya dengan ikon Sumeria, Assyria, hingga Maya menimbulkan dugaan: apakah Jawa kuno adalah titik temu berbagai mitos dewa-dewa dunia? Bahkan bentuk candinya serupa piramida di Mesir dan Mesoamerika.
3. Candi Penataran: Nusantara dan Pertarungan Peradaban
Di Blitar, relief Penataran menampilkan bangsa asing: Han dari China, Campa dari Asia Tenggara, Yahudi, hingga Maya dari Amerika Latin. Bahkan ada gambaran gajah di Copan (Honduras), meski menurut sejarah gajah punah ribuan tahun sebelumnya. Ada pula sosok putri bergaya Romawi, prajurit Indian, hingga kisah pertempuran leluhur Nusantara dengan bangsa lain.
4. Ras-Ras Kuno di Nusantara
Relief Penataran menunjukkan keberadaan tiga spesies berbeda yang hidup berdampingan: manusia biasa, manusia kera, dan raksasa bertaring. Fakta ini menantang teori evolusi Darwin dan memperlihatkan betapa kayanya khazanah peradaban di Jawa kuno.
5. Atlantis di Nusantara?
Kesimpulan besar buku ini berpaut pada teori Prof. Arysio Nunes dos Santos yang menyebut Indonesia sebagai Atlantis yang hilang. Candi Cetho, Sukuh, dan Penataran dipandang sebagai saksi bisu dari sebuah peradaban kuno yang jauh lebih tua daripada Majapahit.
