Menjawab Kontradiksi Alkitab: Perjanjian Baru
Buku ini lahir dari kegelisahan klasik: benarkah Alkitab penuh kontradiksi? Banyak orang skeptis suka melempar tuduhan bahwa kitab suci Kristen tidak konsisten. Penulis kemudian turun tangan, membuka pasal demi pasal, ayat demi ayat, lalu mengupasnya dengan logika, konteks sejarah, dan tafsir bahasa aslinya.
Alhasil, buku ini bukan sekadar apologi, tapi semacam “detektif investigasi” yang berusaha menjawab satu per satu tudingan miring, sekaligus mengajak pembaca menyelami latar budaya dan sejarah Perjanjian Baru.
![]() |
| Menjawab Kontradiksi Alkitab: Perjanjian Baru |
Isi dan Hal-Hal Menarik Tiap Bab
Bab 1 – Injil Sinoptik vs Yohanes
Mengulas mengapa Injil Matius, Markus, Lukas berbeda gaya dengan Yohanes. Tuduhan kontradiksi dijawab dengan penjelasan konteks: sinoptik menekankan kronologi, Yohanes menekankan teologi.
Bab 2 – Silsilah Yesus
Ada yang bilang silsilah Yesus di Matius dan Lukas berbeda. Penulis menunjukkan bahwa Matius menekankan garis hukum (Yusuf), sementara Lukas menekankan garis biologis (Maria). Jadi bukan kontradiksi, melainkan dua perspektif.
Bab 3 – Kematian Yudas Iskariot
Matius bilang Yudas gantung diri, Kisah Para Rasul bilang perutnya terburai. Penulis menjelaskan: dua versi itu saling melengkapi. Yudas mati gantung diri, lalu tubuhnya jatuh terhempas.
Bab 4 – Yesus dan Sabat
Tuduhan bahwa Yesus melanggar hukum Sabat dijawab dengan argumen bahwa Ia menekankan roh hukum, bukan sekadar ritual. “Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk Sabat.”
Bab 5 – Kebangkitan Yesus
Perbedaan detail dalam catatan kebangkitan (siapa yang datang ke kubur, berapa malaikat yang muncul) dibaca bukan kontradiksi, tapi variasi saksi mata. Justru variasi itu yang meneguhkan kesaksian.
Bab 6 – Surat Paulus
Ada tuduhan Paulus bertentangan dengan Yesus. Penulis menunjukkan Paulus konsisten: ajarannya tentang kasih karunia hanyalah penjelasan teologis lebih dalam dari ajaran Yesus.
Bab 7 – Wahyu dan Akhir Zaman
Perbedaan tafsir soal lambang naga, binatang, atau 666, dijelaskan sebagai simbolis. Penulis menekankan perlunya membaca dengan kacamata nubuatan, bukan literalisme kaku.
