Lebih Daripada Pemenang
Kitab Roma sering disebut sebagai “Karya Agung Perjanjian Baru”. Dalam buku Lebih Daripada Pemenang, Dr. Brian J. Bailey mengupas isi surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma secara runtut, praktis, dan penuh wawasan rohani. Buku ini bukan sekadar tafsiran teologis, melainkan juga panduan hidup Kristen yang membumi tentang bagaimana orang percaya dapat sungguh-sungguh hidup dalam kasih karunia Allah dan menjadi lebih dari pemenang dalam setiap tantangan.
Gaya penulisan Bailey sederhana, penuh ilustrasi, dan mudah dicerna, sehingga pembaca awam sekalipun bisa mengikuti kedalaman teologi Paulus. Setiap bab diawali skema, lalu diuraikan ayat demi ayat dengan contoh sejarah, renungan pribadi, dan penerapan praktis.
![]() |
| Lebih Daripada Pemenang |
Isi & Hal-hal Menarik Tiap Bab
1. Pendahuluan & Tujuan Pelayanan (Roma 1:1–17)
Paulus memperkenalkan dirinya sebagai hamba Kristus, membicarakan panggilan pelayanan, dan menekankan inti Injil: “Orang benar akan hidup oleh iman.”
2. Dosa dan Murka Allah (Roma 1:18 – 3:20)
Semua manusia, baik Yahudi maupun non-Yahudi, berada di bawah kuasa dosa. Paulus mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun benar karena perbuatannya.
3. Pembenaran oleh Iman (Roma 3:21 – 5:21)
Bagian penting ini menjelaskan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia. Abraham dijadikan contoh iman yang membenarkan.
4. Kehidupan Baru dalam Kristus (Roma 6 – 8)
Paulus menyingkapkan kehidupan dalam Roh Kudus: bebas dari dosa, kuasa kebangkitan, dan kemenangan atas penderitaan. Di sinilah muncul pernyataan bahwa kita adalah “lebih dari pemenang” melalui Kristus.
5. Israel dalam Rencana Allah (Roma 9 – 11)
Paulus menegaskan kasih setia Allah kepada Israel, sekaligus membuka rahasia panggilan bangsa-bangsa lain ke dalam keselamatan.
6. Hidup Praktis Orang Percaya (Roma 12 – 15)
Umat Kristiani dipanggil untuk mempersembahkan tubuh sebagai korban hidup, hidup dalam kasih, melayani dengan rendah hati, taat kepada pemerintah, dan membangun sesama.
7. Penutup (Roma 16)
Paulus menutup dengan salam-salam pribadi yang hangat, menegaskan pentingnya persekutuan jemaat, dan kembali menekankan kekuatan Injil.
