Kebenaran yang Hilang – Menyingkap Sisi Gelap Sejarah Islam
Pernahkah kita bertanya, benarkah masa lalu Islam hanya berisi kejayaan, keadilan, dan kedamaian?
Buku Kebenaran yang Hilang karya Farag Fouda justru mengajak kita menengok lembaran lain yang jarang dibicarakan: pertumpahan darah, perebutan kuasa, intrik politik, dan bayangan kelam di balik idealisasi sejarah.
Fouda, intelektual Mesir yang lantang bersuara, menulis buku ini sebagai perlawanan atas mitos sejarah. Baginya, sejarah Islam bukanlah kisah “zaman emas” yang sempurna, melainkan panggung manusia dengan segala ambisi dan pertarungan.
![]() |
| Kebenaran yang Hilang |
Isi Menarik dari Tiap Bab
Bab 1 – Pendahuluan: Sejarah dan Mitos
Fouda memulai dengan kritik: mengapa kita begitu mudah mengagungkan masa lalu tanpa melihat sisi gelapnya? Sejarah, katanya, adalah tafsir, bukan wahyu.
Bab 2 – Khulafaur Rasyidin
Masa yang sering dianggap paling murni ternyata penuh pergolakan: perang saudara, perbedaan ijtihad, hingga pembunuhan khalifah. Fouda menyingkapnya dengan tajam, tanpa mengurangi rasa hormat, tapi menolak idealisasi buta.
Bab 3 – Dinasti Umayyah
Kekuasaan berubah menjadi monarki turun-temurun. Intrik istana, perebutan legitimasi, dan perang politik menunjukkan bahwa agama sering dipakai untuk memperkuat tahta.
Bab 4 – Dinasti Abbasiyah
Abbasiyah membawa peradaban, tapi juga berdarah-darah. Kudeta, fitnah, dan eksekusi menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang jarang disampaikan dalam versi “romantis”.
Bab 5 – Penutup: Pelajaran untuk Kini
Fouda menegaskan: membangun masa depan Islam bukan dengan menoleh buta ke masa lalu, melainkan dengan berpikir kritis, berijtihad, dan menatap realitas modern.
