Driyarkara: filsuf yang menyalakan akal-sehat bangsa
Bayangkan Jakarta awal 1960-an: mimbar-mimbar kampus ramai, koran penuh debat arah bangsa, dan di tengah riuh itu tampil seorang imam–filsuf yang menulis bening, tegas, sekaligus akrab. Nicolaus Driyarkara, SJ bukan tipe pemikir menara gading; ia menguliti isu manusia, kebebasan, pendidikan, kebudayaan, hingga politik, lalu mengembalikannya ke jantung kehidupan sehari-hari. Buku ini terbitan Gramedia (edisi komprehensif modern), dan menjadi pintu utama untuk memahami warisan intelektual Driyarkara bagi Indonesia.
![]() |
| Karya Lengkap Driyarkara |
Isi & hal-hal menarik per bagian
1) Fenomen Manusia
Bab-bab kunci: Persoalan Apa/SIapa dalam Manusia; Menuju ke Arah Kesempurnaan; Keluhuran Kemerdekaan & Kedaulatan; Pendalaman Istilah Kemerdekaan; Kemauan Kita. Driyarkara memulai dari pertanyaan fundamental: manusia itu “apa” atau “siapa”? Dari sini ia merumuskan martabat, kebebasan, dan kehendak sebagai poros. Bab tentang “kemerdekaan” bukan slogan politis; ia menelusuri makna kemerdekaan sebagai keluhuran pribadi sebuah dasar etika sosial Indonesia merdeka.
2) Persona dan Personisasi
Manusia sebagai Barang Badani; (naskah tambahan) tentang pribadi. Driyarkara mengurai “persona”/pribadi: manusia bukan benda, bukan alat, melainkan subjek yang menyadari, memilih, dan bertanggung jawab. Di sini terasa pengaruh fenomenologi (mis. Scheler, Merleau-Ponty) yang ia olah menjadi bahasa lokal membumi, hemat istilah, kaya contoh.
3) Badan dan Dinamika Manusia
Aspek Jasmani Manusia; Kesehatan dalam Kehidupan Insani; Pelengkap Manusia; Manusia sebagai Dinamika; Bentuk Dinamika Kita; Terikat atau Merdeka?; Luka-Luka Kita; Pengertian sebagai Unsur Dinamika Manusia; Permainan sebagai Aktivitas Dinamika. Manusia utuh: badan jiwa relasi. Kesehatan, permainan, luka batin, bahkan pengertian (knowing) dibaca sebagai dinamika yang membuat kita tumbuh. Bab “Terikat atau Merdeka?” tajam menimbang batas kebebasan dan tanggung jawab relevan untuk zaman serba cepat dan bising.
4) Pendidikan: memanusiakan manusia muda
Pendidikan adalah tindakan sadar memerdekakan manusia muda proses hominisasi (menjadi manusia) dan humanisasi (memanusiakan). Guru bukan “penyampai kurikulum” semata; ia pendamping pertumbuhan martabat dan budi. Inilah akar pendidikan karakter ala Indonesia sebelum istilahnya populer menolak komersialisasi pendidikan dan meneguhkan pendidikan sebagai pelayanan martabat.
5) Kebudayaan & Dialog
Kebudayaan ialah cara hidup; bukan sekadar seni, melainkan jaringan makna: bahasa, kerja, iman, tradisi. Indonesia yang majemuk mesti dirawat lewat dialog, bukan dominasi. Di sini Driyarkara menawarkan etika ko-eksistensi pijakan moral untuk merawat keberagaman dan menangkal polarisasi. (Tema-tema ini muncul pula dalam himpunan tulisan “tentang kebudayaan” yang selama bertahun-tahun beredar sebelum edisi lengkap dihimpun).
6) Bangsa, Negara, dan Pancasila
Kemerdekaan politik harus menjadi kemerdekaan manusia dari ketakutan, dari kemiskinan, dari kebodohan. Pancasila dibaca sebagai etik kebangsaan: menegaskan martabat pribadi sekaligus tanggung jawab sosial. Membumikan moral dalam praktik bernegara tajam mengkritik kekuasaan yang lupa manusia, namun tetap mengajak dialog. (Kumpulan istilah/tema seperti “Pancasila”, “Sosialitas”, “Demokrasi” tampak berulang dalam indeks/istilah jilid).
