Islamku, Islam Anda, Islam Kita – Menyulam Toleransi dalam Wajah Islam Indonesia
Bayangkan suasana sebuah warung kopi di desa: orang-orang duduk bercengkerama, sebagian berbicara tentang kitab kuning, sebagian lain tentang harga cabai, sementara di pojok ada yang sibuk membahas politik. Itulah gambaran Islam ala Gus Dur—membumi, ramah, dan apa adanya. Dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Abdurrahman Wahid mengajak kita melihat Islam tidak hanya sebagai dogma, tetapi sebagai jalan hidup yang harus menyatu dengan realitas masyarakat Indonesia yang majemuk.
Buku ini terdiri dari tiga bagian. “Islamku” adalah Islam personal Gus Dur: Islam pesantren yang hangat, sufistik, penuh kasih, dan tak lekang oleh ritual sehari-hari. “Islam Anda” membicarakan ragam wajah Islam di luar dirinya—modernis, skripturalis, hingga fundamentalis—yang meski berbeda tetap bagian dari keluarga besar umat. Lalu, puncaknya, “Islam Kita”: cita-cita akan sebuah Islam inklusif yang bukan hanya memikirkan kelompoknya sendiri, tapi juga masa depan bangsa, demokrasi, dan perdamaian dunia.
![]() |
| Islamku, Islam Anda, Islam Kita |
Hal yang menarik, Gus Dur menulis dengan gaya khasnya: ringan, kadang jenaka, tapi selalu tajam. Ia tidak menggurui, melainkan mengajak berdialog. Dari perbedaan cara beragama, Gus Dur justru menegaskan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan ancaman. Bacaan ini bukan sekadar refleksi keislaman, tapi juga sebuah “peta jalan” untuk menjaga Indonesia tetap rukun dalam bingkai kebhinnekaan.
Kenapa Buku Ini Penting Dibaca?
- Ditulis oleh Gus Dur, kiai sekaligus presiden yang memahami Islam dari sisi tradisi, politik, dan kemanusiaan.
- Menawarkan wajah Islam Indonesia yang ramah, toleran, dan menghargai perbedaan.
- Relevan untuk menjawab tantangan intoleransi dan eksklusivisme yang masih muncul hingga kini.
- Cocok untuk pembaca awam, mahasiswa, aktivis, hingga siapa pun yang ingin mengenal pemikiran Islam moderat khas Nusantara.
