Haji dan Umroh: Ritual Berhala
Buku ini menampar langsung ke wajah tradisi yang dianggap paling sakral dalam Islam: haji dan umroh. Alih-alih menyebutnya ibadah murni, penulis berani menyatakan bahwa semua itu hanyalah warisan ritual penyembahan berhala Arab kuno yang diberi baju baru. Bagi penulis, Ka’bah bukanlah rumah Tuhan, melainkan remake dari tradisi pagan.
![]() |
| Haji dan Umroh: Ritual Berhala |
Isi dan Hal-hal Menarik Tiap Bab
Bab 1 – Asal-Usul Ka’bah
Dibuka dengan pertanyaan sinis: benarkah Ibrahim yang membangunnya? Atau sebenarnya itu peninggalan penyembah bulan kuno yang dipoles ulang? Penulis mengajak kita menelusuri jejak arkeologi sambil menyindir, “Kalau benar rumah Tuhan, kok penuh batu hitam yang dicium-cium?”
Bab 2 – Batu Hajar Aswad
Batu ini dianggap sakral, tapi menurut penulis: ya tetap batu. Dikaitkan dengan meteor, dewa bulan, sampai jimat mistis. Sarkasmenya tajam: “Kalau mau mencium batu, kenapa jauh-jauh ke Mekah? Di pekarangan juga banyak.”
Bab 3 – Tawaf dan Sa’i
Berputar-putar tujuh kali mengelilingi Ka’bah lalu lari-lari kecil bolak-balik. Penulis menilainya sebagai “copy-paste” dari ritual kesuburan kuno. Sarkastisnya: “Ibadah atau senam pagi? Tinggal tambah musik biar lebih meriah.”
Bab 4 – Wukuf di Arafah
Disebut momen puncak haji. Penulis menyebutnya malah mirip pesta rakyat. Orang berkumpul massal, doa bersama, lalu pulang dengan gelar haji. Komentarnya sinis: “Mirip nonton konser, bedanya tiketnya miliaran.”
Bab 5 – Jumrah (Lempar Setan)
Ritual melempar batu ke tiga pilar disebut sebagai peninggalan tradisi suku yang gemar mengusir roh jahat. Penulis nyelutuk: “Setan dilempari kerikil, ya paling sakit sebentar lalu kabur. Kok kayak main petak umpet?”
Bab 6 – Kurban di Mina
Penyembelihan hewan dikaitkan dengan tradisi pagan yang mempersembahkan korban darah pada dewa. Di sini sindiran makin pedas: “Katanya Tuhan nggak butuh makan, tapi tiap musim haji malah ada festival jagal massal.”
Bab 7 – Gelar Haji
Bab ini menguliti kebanggaan sosial setelah pulang haji. Kritiknya tajam: ibadah jadi status sosial, bukan lagi hubungan spiritual. “Kalau bisa beli gelar dengan duit, mending sekalian ada toga dan wisuda.”
Bab 8 – Ekonomi Haji
Ujung-ujungnya duit. Dari tiket, hotel, kurban, sampai oleh-oleh. Penulis menyebutnya sebagai “industri rohani paling mahal di dunia.” Sarkasme pamungkas: “Bisnis haji nggak pernah resesi—setan aja dilemparin kerikil tiap tahun, tetap laku keras.”
