Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914–1942 – Lintasan Ideologi di Kota Batik
Surakarta sering kita bayangkan sebagai kota keraton, seni batik, dan budaya Jawa yang kental. Tapi siapa sangka, di awal abad ke-20 kota ini juga jadi “dapur” tempat gagasan besar bertemu: Islam, komunisme, nasionalisme, dan kolonialisme saling beradu. Itulah yang ditelusuri Dr. Syamsul Bakri dalam bukunya Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914–1942.
Buku ini membedah fase-fase perjumpaan Islam dan komunisme di Surakarta—dari masa kebangkitan Sarekat Islam, pengaruh Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), hingga masuknya Partai Komunis Indonesia (PKI). Dengan menelusuri arsip, surat kabar, dan catatan kolonial, penulis menghidupkan kembali atmosfer politik penuh dinamika di kota Solo sebelum Indonesia merdeka.
![]() |
| Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942 |
Isi & Poin-Poin Penting Tiap Bab
1. Surakarta Awal Abad 20
Menggambarkan Solo sebagai pusat perdagangan batik sekaligus kota dengan stratifikasi sosial tajam antara priyayi, pedagang, dan buruh. Inilah latar sosial yang melahirkan keresahan dan kesadaran politik.
2. Kelahiran Sarekat Islam (SI)
SI berdiri di Solo tahun 1912 dan berkembang menjadi organisasi massa terbesar kala itu. Di bab ini, penulis menunjukkan bagaimana Islam dijadikan dasar perlawanan terhadap diskriminasi dan kapitalisme kolonial.
3. Masuknya Gagasan Sosialisme & Komunisme
Pengaruh tokoh-tokoh ISDV seperti Sneevliet dan Darsono mulai terasa. Komunisme menawarkan ide kesetaraan kelas yang menarik bagi buruh dan tani Solo.
4. Ketegangan Islam dan Komunisme dalam SI
Bab ini menyoroti perpecahan besar dalam Sarekat Islam: kubu “Merah” (komunis) vs kubu “Putih” (Islam). Konflik ideologis ini mencerminkan benturan dua jalan perjuangan melawan kolonialisme.
5. Gerakan Bawah Tanah dan Reaksi Kolonial
PKI mencoba membangun basis di Solo, namun represi pemerintah kolonial Belanda membuat banyak aktivis ditangkap atau dibuang ke Digul.
6. Islam, Komunisme, dan Nasionalisme Menjelang Jepang Masuk
Buku ditutup dengan refleksi bahwa meski konflik keras terjadi, perjumpaan gagasan ini meninggalkan jejak penting dalam sejarah politik Indonesia. Solo menjadi ruang “laboratorium ideologi” yang membentuk warna perjuangan kemerdekaan.
