Gajah Mada Jilid 5: Madakaripura Hamukti Moksa
Jilid ini bukan sekadar penutup; ia adalah renungan mendalam tentang kekuasaan, kehormatan, dan perjalanan hidup yang fana disampaikan dengan emosi dan kesadaran spiritual yang tinggi. Pasca kejayaan, sang Mahapatih menghadapi kegagalan, penyesalan, dan absennya pengakuan sisi manusiawinya yang membuat sang tokoh terasa hidup dan dekat.
![]() |
| Gajah Mada Jilid 5 |
Ringkasan & Poin-Poin Menarik
1. Kejatuhan dan Isolasi
Setelah tragedi Perang Bubat, Gajah Mada dijatuhkan dari jabatannya dan dipaksa menjalani pengasingan di Madakaripura. Titik kritis ini menandai pagelaran senjakalanya.
2. Luka yang Tak Lekang oleh Waktu
Gajah Mada merasa pengorbanannya selama puluhan tahun tidak dihargai; ia disalahkan atas tragedi besar itu, bahkan merasa nama dan jasanya memudar dalam sejarah.
3. Keruntuhan Keutuhan Nusantara
Tanpa kehadirannya, Majapahit mulai dilanda disintegrasi. Negara-negara bawahan merasa leluasa memperjuangkan kemerdekaan, meninggalkan kerajaan yang dulu kokoh.
4. Panggilan Kembali, Namun Waktu Tak Lagi Memihak
Setahun kemudian, Hayam Wuruk memanggil Gajah Mada kembali. Namun waktu telah berlalu, dan puncak kejayaan telah lewat bahkan seorang Mahapatih legendaris tak bisa menentang kodrat.
5. Refleksi Eksistensial dan Filosofi Kemunduran
Novel ini menutup pentalogi dengan sentuhan filosofis: menyadari bahwa segala sesuatu yang besar pun berujung tiada, bahwa ambisi harus diimbangi dengan kerendahan hati, dan manusia sekaya Gajah Mada pun tak lepas dari kefanaan.
