Gajah Mada Jilid 4: Perang Bubat – Tragedi di Puncak Kekuasaan
Pernikahan yang semestinya menyatukan justru menciptakan jurang: cinta, penghormatan adat, dan intrik politik bertabrakan dengan brutalnya. Kisah Dyah Pitaloka dan akibat fatalnya memberikan kedalaman emosional besar membuat pembaca merasa kehilangan dan marah bersama para tokoh. Peristiwa ini menandai titik balik karier Gajah Mada: era puncak kekuasaan ia segera diakhiri oleh tragedi ini memunculkan pertanyaan tentang ambisi, loyalitas, dan batas keadilan politik.
![]() |
| Gajah Mada Jilid 4 |
Ringkasan & Poin-Poin Menarik
1. Pernikahan Berliku dan Harapan Runtuh
Dyah Pitaloka, putri Sunda Galuh, dijodohkan dengan Raja Hayam Wuruk. Ia menerima syarat bahwa sang calon pewaris berasal dari dirinya not from Majapahit’s lineage sebagai bentuk menjaga kehormatan Sunda Galuh. Namun pernikahan ini menjadi benih tragedi besar.
2. Cinta Terlarang dan Pengkhianatan Saniscara
Cinta terpendam Dyah Pitaloka kepada Saniscara ditolak saat segala harapannya dipaksa demi kekuasaan politik. Saniscara, yang sebenarnya tak bersedia, hanya membiarkannya menyerah demi kehormatan kerajaan.
3. Aksi keliru pengawal Gajah Mada
Empat pengikut fanatik Gajah Mada salah menafsirkan perintah menjadi dalang konflik antar kerajaan sebelum majelis pernikahan kelar. Gajah Mada sendiri tidak terlibat dan sedang melakukan semedi ketika kekacauan itu terjadi.
4. Tragedi Perang Bubat
Perang Bubat bukan sekadar tragedi politik; ia adalah tragedi emosional Darah tumpah, cinta terkorbankan, dan segenap idealisme runtuh dalam satu peristiwa sakral yang berubah jadi malapetaka.
