Gajah Mada Jilid 2: Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara
Drama Politik & Ketegangan Intrik, Implikasi kematian raja, perebutan tahta, dan strategi cermat, menciptakan alur seperti kisah politik suhu tinggi—serupa drama istana yang tak bisa dilewatkan. Tokoh seperti Sri Gitarja, Dyah Wiyat, Raden Cakradara, dan Kudamerta digambarkan manusiawi—bermasalah sekaligus menarik untuk diikuti. Peran Gajah Mada berkembang dari pasukan pelindung menjadi sosok intelektual yang menavigasi labirin politik dengan akal dan integritas.
![]() |
| Gajah Mada Jilid 2 |
Ringkasan & Poin-Poin Menarik
1. Kekacauan Pasca Wafatnya Jayanegara
Setelah Raja Jayanegara diracuni yang ditemukan persekongkolannya oleh Gajah Mada muncul kekosongan kekuasaan. Dua putri, Sri Gitarja dan Dyah Wiyat, dianggap sebagai calon sah kerajaan. Intrik perebutan takhta pun meletup di istana Majapahit.
2. Dua Sekar Kedaton dan Jejaring Intrik
Kandidat penerus Sri Gitarja dan Dyah Wiyat masing-masing memiliki pasangan: Raden Cakradara dan Raden Kudamerta. Namun keduanya dicurigai: Cakradara terkait pembunuhan, Kudamerta menyembunyikan anak dari perkawinan sebelumnya. Gajah Mada menyelidiki dengan kecerdikan dan kebijaksanaan.
3. Teka-Teki “Bagaskara Manjer Kawuryan”
Sembilan tahun setelah konflik Ra Kuti, Gajah Mada dihadapkan pada teka-teki kata sandi “Bagaskara Manjer Kawuryan”—nama yang muncul lagi setelah sebelumnya diyakini telah lenyap bersama dalangnya. Dendam lama kembali membayang.
4. Atmosfer Politik Penuh Ketegangan
Intrik politik istana diceritakan penuh ketegangan, laksana kisah detektif di keraton. Strategi, pengkhianatan, dan penyelidikan menjadi bumbu utama narasi.
5. Gaya Bahasa & Kekuatan Narasi
Bahasa tetap kaya, filosofis, dan memukau, membawa pembaca ke jantung Majapahit dengan detail budaya dan sejarah yang autentik.
