Filosofi Teras

Filosofi Teras – Henry Manampiring


Bayangkan Anda sedang terjebak macet, deadline menumpuk, dan ponsel terus berbunyi. Stres, bukan? Nah, Filosofi Teras hadir dengan kunci sederhana: kita tidak bisa mengontrol dunia, tapi kita bisa mengontrol pikiran dan reaksi kita.

Henry Manampiring memperkenalkan kembali ajaran filsafat kuno Yunani, Stoisisme, ke dalam konteks kekinian. Filosofi ini mengajarkan bahwa ketenangan batin lahir dari membedakan mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Bukan teori abstrak, melainkan praktik sehari-hari: dari mengelola emosi, menghadapi kritik, hingga berdamai dengan kegagalan.

Filosofi Teras


Isi dan Hal-Hal Menarik Tiap Bab

Bab 1 – Kenapa Kita Perlu Filosofi?

Manampiring memulai dengan pengakuan pribadi: ia sendiri pernah tenggelam dalam kecemasan dan mencari pegangan. Dari sini, ia menemukan Stoisisme.

Bab 2 – Sejarah Singkat Stoisisme

Dari Zeno di Yunani hingga Marcus Aurelius, kaisar Romawi. Bab ini menarik karena menghubungkan filsuf besar dengan masalah yang ternyata sama dengan kita sekarang: stres, politik, dan kematian.

Bab 3 – Dikotomi Kendali

Inilah inti Stoisisme: bedakan mana yang bisa dikendalikan (pikiran, tindakan) dan mana yang tidak (cuaca, omongan orang, nasib). Prinsip ini sederhana tapi revolusioner.

Bab 4 – Emosi dan Pikiran

Stoisisme bukan menekan emosi, tapi mengelolanya. Marah, kecewa, sedih—semua wajar. Yang penting adalah bagaimana kita memilih respon.

Bab 5 – Hidup dalam Kebajikan

Menurut Stoik, kebahagiaan bukan soal harta atau status, tapi soal hidup sesuai nilai: adil, bijaksana, berani, dan menahan diri.

Bab 6 – Tentang Kematian dan Kehilangan

Kematian bukan musuh, melainkan bagian dari hidup. Merenungkannya membuat kita lebih menghargai waktu yang ada.

Bab 7 – Praktik Stoisisme Modern

Manampiring menawarkan latihan praktis: jurnal pagi, refleksi malam, menulis hal-hal yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan.

Bab 8 – Stoisisme di Era Digital

Bagian ini paling relevan. Bagaimana menghadapi komentar pedas di media sosial? Bagaimana tidak iri saat melihat pencapaian orang lain? Stoisisme memberi kacamata baru untuk tetap waras.