Distorsi Sejarah Islam

Sejarah Bukan Kitab Suci, Tapi Catatan yang Bisa Dimanipulasi


Kalau mendengar kata sejarah Islam, banyak orang langsung membayangkan sesuatu yang sakral, lurus, tanpa cela. Tapi buku Distorsi Sejarah Islam datang untuk menampar pandangan itu. Ia bicara blak-blakan: sejarah Islam yang kita tahu hari ini bukanlah “cermin jernih,” melainkan cermin retak penuh goresan kepentingan.

Dari bab awal, kita sudah dipaksa berpikir: apakah benar semua kisah sahabat, perang, dan mukjizat Nabi ditulis apa adanya? Atau jangan-jangan, ada “editor politik” di balik layar yang menghapus bagian memalukan dan menambah kisah heroik sesuai selera penguasa?

Distorsi Sejarah Islam

Dinasti dan Sejarah: Panggung Propaganda

Lihat saja Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Mereka bukan hanya penguasa politik, tapi juga sutradara besar yang mengatur jalan cerita. Tokoh yang berpihak pada mereka dijadikan pahlawan super, sementara lawan politik langsung dicap sesat, kafir, atau minimal pengkhianat. Buku ini membongkar bagaimana “hadis” dan “tafsir” pun bisa dipakai sebagai senjata politik. Sejarah berubah jadi pamflet propaganda — mirip akun medsos buzzer zaman sekarang.

Narasi Mukjizat dan Keajaiban: Bahan Bakar Iman atau Bumbu Cerita?

Di bab lain, kita ditunjukkan betapa banyak riwayat mukjizat yang tak jelas jejak historisnya. Bulan terbelah? Air keluar dari jari? Makanan segenggam jadi seribu? Kalau semua itu nyata, kenapa catatan sejarah dunia lain diam seribu bahasa? Jawabannya sederhana: karena mukjizat bukan catatan astronomi atau laporan perang, tapi “narasi ajaib” untuk membakar iman.

Tafsir Berbeda, Sejarah Berantakan

Yang lebih lucu (atau tragis), satu peristiwa bisa punya versi berbeda tergantung siapa yang menulisnya. Kisah perang, kisah sahabat, bahkan tafsir ayat Qur’an bisa dipelintir demi kepentingan kelompok. Jadi, sejarah Islam kadang mirip media partisan: CNN bilang begini, Fox News bilang begitu. Bedanya, ini bukan berita sehari, tapi cerita yang dipelihara 14 abad.

Orientalis, Kritik, dan Panas Telinga

Buku ini juga mengulas bagaimana orientalis dan sarjana modern mencoba mengkritisi naskah-naskah awal Islam. Hasilnya bikin banyak pihak alergi: ada indikasi mushaf Qur’an pun mengalami proses redaksi, dan catatan sejarah awal Islam tidak sebersih yang kita kira. Mau percaya atau tidak, itu pilihan. Tapi menolak semua kritik dengan teriakan “kafir” jelas bukan argumen intelektual.