Detik-Detik yang Menentukan – Catatan B.J. Habibie Mengawal Demokrasi
Bayangkan seorang presiden yang hanya menjabat 17 bulan, namun harus menghadapi badai politik, ekonomi, dan sosial terbesar dalam sejarah Indonesia modern. Itulah B.J. Habibie, yang melalui bukunya Detik-Detik yang Menentukan menuliskan sendiri kisah pergulatannya: dari lengsernya Soeharto, gejolak reformasi, hingga pengambilan keputusan krusial yang mengubah arah bangsa.
Habibie menulis bukan sekadar sebagai teknokrat atau politisi, tetapi sebagai saksi mata yang berada di pusat pusaran sejarah. Buku ini merekam bagaimana Indonesia beralih dari rezim otoriter menuju era demokrasi, dengan segala dilema dan harga mahal yang harus dibayar.
![]() |
| Detik-Detik yang Menentukan |
Isi & Poin-Poin Penting Tiap Bab
1. Lengsernya Soeharto dan Awal Reformasi
Habibie menggambarkan detik-detik pengunduran diri Soeharto pada Mei 1998. Ia tiba-tiba menerima amanah presiden dalam situasi bangsa yang penuh krisis: ekonomi terpuruk, kerusuhan sosial, dan ketidakpercayaan rakyat.
2. Krisis dan Keputusan Ekonomi
Sebagai presiden baru, Habibie harus meredam krisis moneter. Ia menuturkan strategi stabilisasi rupiah, restrukturisasi perbankan, dan paket kebijakan untuk mengembalikan kepercayaan pasar.
3. Reformasi Politik dan Demokratisasi
Habibie membuka keran kebebasan pers, membebaskan tahanan politik, dan merumuskan undang-undang baru tentang partai, pemilu, hingga kebebasan berorganisasi. Dalam waktu singkat, Indonesia berubah dari sistem satu partai dominan menjadi multi partai.
4. Referendum Timor Timur
Bagian paling kontroversial: Habibie menjelaskan alasan mengapa ia memberi opsi referendum bagi Timor Timur. Keputusan ini berujung pada lepasnya Timor Timur dari Indonesia, tetapi juga menandai komitmen pada prinsip demokrasi dan hak menentukan nasib sendiri.
5. Sidang Istimewa dan Pertanggungjawaban
Habibie menceritakan bagaimana ia menyusun pidato pertanggungjawaban di Sidang MPR 1999. Meski mendapat banyak apresiasi, pertanggungjawaban itu ditolak, dan ia memilih tidak maju lagi sebagai presiden.
6. Refleksi dan Harapan
Di akhir, Habibie menegaskan bahwa kepemimpinan bukan soal lama berkuasa, tetapi soal keberanian mengambil keputusan penting di saat genting.
![]() |
| Detik-Detik yang Menentukan |
Hal-Hal Menarik
* Ditulis langsung oleh Habibie, sehingga penuh detail “di balik layar”.
* Mengungkap drama politik di sekitar lengsernya Soeharto dan awal reformasi.
* Menunjukkan sisi manusiawi Habibie: keraguannya, kesedihannya, tapi juga tekadnya.
* Membuka wawasan tentang bagaimana demokrasi Indonesia lahir dengan penuh pengorbanan.
Buku ini adalah dokumen sejarah dari pelaku langsung, bukan sekadar catatan akademis. Mengajarkan arti kepemimpinan dalam situasi krisis. Membantu memahami akar demokrasi Indonesia yang masih kita jalani hingga kini.

