Dei Verbum

Dei Verbum


Bayangkan suasana tahun 1965 di Basilika Santo Petrus, Roma. Para Uskup dari seluruh dunia berkumpul, menutup Konsili Vatikan II dengan dokumen penting: Dei Verbum—yang berarti Sabda Allah. Dokumen ini bukan sekadar teks teologi, melainkan peta jalan bagaimana Gereja Katolik memahami wahyu, Kitab Suci, dan tradisi iman di dunia modern.

Dei Verbum menjadi semacam undangan Gereja kepada umatnya: untuk kembali membuka Kitab Suci, mendalami sabda Allah, dan menjadikannya pusat kehidupan iman.

Dei Verbum


Isi & Hal-hal Menarik Tiap Bab

1. Tentang Wahyu Sendiri

Allah menyingkapkan diri-Nya kepada manusia, dan puncak wahyu itu adalah Yesus Kristus. Iman adalah jawaban manusia atas tawaran kasih ini.

2. Meneruskan Wahyu Ilahi

Wahyu tidak berhenti di zaman para Rasul. Tradisi Suci dan Kitab Suci menjadi warisan yang dijaga Gereja melalui para Uskup, pengganti para Rasul.

3. Ilham Kitab Suci & Penafsiran

Kitab Suci sungguh diilhami Allah, tetapi ditulis oleh manusia dengan gaya bahasa dan budaya zamannya. Karena itu penafsiran Kitab Suci perlu memperhatikan konteks sejarah, sastra, dan semangat Roh Kudus.

4. Perjanjian Lama

Kitab-kitab ini tetap berharga karena menyiapkan jalan bagi Kristus, penuh nubuat, doa, dan pengajaran moral yang abadi.

5. Perjanjian Baru

Injil menempati posisi istimewa: kesaksian langsung tentang Yesus. Konsili menegaskan asal-usul apostolik Injil serta sifat historisnya yang nyata.

6. Kitab Suci dalam Kehidupan Gereja

Kitab Suci adalah santapan rohani umat. Gereja mendorong terjemahan Alkitab ke berbagai bahasa, studi Kitab Suci, dan pembacaan pribadi maupun liturgis.