Bung Karno Menggugat: Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal 65 hingga G30S

Bung Karno Menggugat – Membaca Ulang Sejarah Indonesia


Buku Bung Karno Menggugat karya sejarawan Dr. Baskara T. Wardaya, SJ, adalah undangan untuk kembali menengok sejarah Indonesia dengan kacamata yang lebih jernih. Di dalamnya, kita diajak melihat perjalanan Bung Karno dari seorang pemuda pemberontak kolonialisme, pertemuannya dengan Marhaen, hingga pergulatan politik internasional yang melibatkan CIA dan akhirnya tragedi berdarah 1965.

Alih-alih hanya menyodorkan narasi resmi ala Orde Baru, buku ini memotret sejarah dari berbagai sudut, termasuk suara korban dan rekaman dokumen asing. Hasilnya adalah mosaik sejarah yang kompleks, penuh intrik, namun penting untuk dipahami agar bangsa ini tidak terus terjebak dalam “amnesia sejarah.”

Bung Karno Menggugat

Isi dan Hal-hal Menarik Tiap Bagian

Bagian I – Menggugat Kolonialisme

Buku dibuka dengan kisah Sukarno muda yang berani menantang kemapanan kolonial. Pertemuannya dengan petani miskin bernama Marhaen melahirkan konsep “Marhaenisme” – sebuah ideologi yang berpihak pada rakyat kecil. Di sini, pembaca disuguhkan potret Bung Karno sebagai pemimpin visioner sekaligus manusia dengan semangat solidaritas tinggi.

Bagian II – Menggugat Keterlibatan Amerika

Baskara menyingkap keterlibatan CIA dalam politik Indonesia, terutama pada era 1950–1960-an. Mulai dari operasi rahasia, dukungan kepada pemberontakan daerah, hingga strategi melemahkan posisi Sukarno. Fakta-fakta ini diperkuat dengan arsip diplomatik Amerika Serikat. Pembaca diajak melihat bahwa politik Indonesia kala itu tak pernah lepas dari cengkeraman Perang Dingin.

Bagian III – Menggugat Tragedi 1965

Inilah bagian paling mengguncang: tragedi G30S dan pembantaian massal 1965. Penulis menghadirkan berbagai teori tentang “dalang” peristiwa itu, keterlibatan Washington, hingga peran Angkatan Darat. Yang menarik, buku ini tidak berhenti pada siapa pelaku, tetapi juga mengulik bagaimana mitos-mitos Orde Baru diciptakan untuk membenarkan kekerasan. Bagian ini membuka ruang refleksi bagi pembaca: beranikah kita menghadapi sejarah dengan jujur?

Bagian IV – Menggugat Kepemimpinan Bangsa

Baskara menyoroti Bung Karno bukan hanya sebagai proklamator, tetapi juga sebagai “Guru Bangsa.” Di sini tergambar sisi kuat sekaligus rapuhnya kepemimpinan Sukarno. Ada karisma, tapi juga kecenderungan otoriter. Ada ketulusan, tapi juga kelemahan manusiawi. Bagian ini penting untuk memahami bahwa kepemimpinan sejati selalu punya dua sisi, dan sejarah perlu dilihat apa adanya.