Borobudur & Nabi Sulaiman

Borobudur & Nabi Sulaiman: Fantasi Sejarah dari Sleman ke Surga





Bayangkan headline pagi:

Borobudur Bukan Candi Buddha, Melainkan Peninggalan Nabi Sulaiman.”

Telinga langsung gatal, alis terangkat. Apa benar? Atau sekadar klaim fantastis yang nikmat dibaca sambil ngopi? Inilah inti buku karya KH Fahmi Basya, yang dengan penuh keyakinan menyatakan: sejarah resmi salah, arkeologi keliru, dan Borobudur sejatinya warisan langsung dari kerajaan Nabi Sulaiman. Bukan main, bukan sekadar teori alternatif, tapi klaim dengan 40 bukti eksak hasil penelitian tiga dekade.

Hasilnya? Sebuah bacaan yang lebih mirip film konspirasi sejarah di channel TV tengah malam—serius tapi bikin senyum miring.

Borobudur & Nabi Sulaiman


Bab 1–3: Negeri Saba di Jawa

Buku dibuka dengan “penemuan geografis” besar: negeri Saba bukan di Yaman, melainkan di Jawa Tengah. Alasannya? Nama-nama daerah. Sleman = Sulaiman. dan Wonosobo = Negeri Saba. Kita jadi teringat kata pepatah: “apa pun bisa cocok kalau dipaksa cocok.” Dengan logika ini, kota “Solo” mungkin bisa berarti “Solomon,” dan “Sukabumi” artinya “Suku Nabi.” bagian ini ditulis dengan gaya penuh percaya diri. Fahmi menabuh genderang: Nabi Sulaiman bukan di Timur Tengah, tapi di tanah air kita sendiri.

Bab 4–6: Surat Emas Ratu Boko

Bagian berikut membawa kita ke situs Ratu Boko, dekat Yogyakarta. Di sinilah klaim yang paling dramatis muncul: ditemukan surat emas bertuliskan “Bismillahirrahmanirrahim.” Menurut Fahmi, ini adalah surat asli dari Nabi Sulaiman. Buktinya? Tentu saja karena sesuai dengan narasi beliau. Tidak ada publikasi arkeologi resmi, tapi buat penulis, ini sudah cukup jadi “smoking gun.”

Buat pembaca awam, klaim ini terdengar menggetarkan. Bayangkan, Nabi Sulaiman kirim surat sampai Jawa! Tapi bagi yang terbiasa dengan disiplin sejarah, klaim ini seperti berita WhatsApp grup yang naik kelas jadi buku.

Bab 7–10: Relief Borobudur & Burung Bicara

Borobudur penuh relief Buddha. Kisah Jataka, Lalitavistara, dan ajaran karma terpahat di batu. Tapi bagi Fahmi, itu bukan kisah Buddha, melainkan kisah Nabi Sulaiman. Relief burung? Bukti Sulaiman yang bisa bicara dengan hewan. Relief manusia dan hewan? Bukti kerajaan Sulaiman yang luas dan penuh keajaiban. Dengan gaya ini, Borobudur berubah dari mandala Buddha menjadi album foto Nabi Sulaiman versi batu.

Kalau semua burung di relief adalah bukti Nabi, lalu kalau ada kura-kura, mungkin itu transportasi zaman nabi. Kalau ada gajah, otomatis pasukan perang Sulaiman. Kalau ada pohon kelapa? Yah, mungkin itu hutan Nabi juga.

Bab 11–14: Matematika Qur’an di Borobudur

Tak puas dengan nama tempat dan relief, Fahmi menambahkan angka-angka Qur’an. Ia mengaitkan jumlah stupa, tingkatan Borobudur, bahkan ukurannya dengan hitung-hitungan kitab suci. Hasilnya? Semua angka “cocok.”

Angka memang selalu patuh kalau dipaksa. Seperti main sudoku: pasti bisa diselesaikan, asal sabar memanipulasi.

Bab 15–Akhir: Bangga Jadi Warisan Nabi

Buku ditutup dengan ajakan nasionalis: Indonesia adalah pusat dunia sejak zaman nabi. Borobudur, Ratu Boko, Sleman, Wonosobo semua bukti bahwa Nusantara punya sejarah spiritual lebih tua dari Timur Tengah. Baca bagian ini rasanya seperti pidato motivator: penuh semangat, penuh kebanggaan, walau isinya membuat para arkeolog mungkin pengen minum obat sakit kepala.

Kalau Borobudur bisa jadi peninggalan Sulaiman, jangan-jangan nanti Monas dianggap tongkat Nabi Musa, dan Candi Prambanan disebut istana Nabi Daud. Semua bisa, asal mau dicocokkan.