An-Nawazil Al-Kubra fi At-Tarikh Al-Islami
Dr. Fathi Zaghrut tidak hanya menceritakan “apa yang terjadi”, tetapi menganalisis kenapa dan bagaimana kejatuhan ini bisa terjadi — bukan karena satu faktor saja, melainkan kombinasi kekuatan eksternal, kelemahan internal, konflik, dan salah kebijakan. Buku ini sangat tebal (sekitar 950 halaman), artinya penulis menyuguhkan detail bukti sejarah, narasi, tokoh, faktor politik, ekonomi, budaya, dan ideologis yang saling berinteraksi.
![]() |
| Bencana-Bencana Besar dalam Sejarah Islam |
Isi & Hal-Menarik Per Bab
Kejatuhan Baghdad
Bayangkan sebuah kota megah sebagai pusat ilmu, pemerintahan, kekuasaan Abbasiyah. Di satu sisi, teater kemegahan — istana, perpustakaan, ulama; di sisi lain, ada korupsi, kelemahan militer, ketidakmampuan pemimpin mengambil keputusan penting. Zaghrut mendalami peran khalifah Al-Mu’tashim dan penerusnya, serta bagaimana ketidakmampuan memimpin terutama dalam hal keamanan dan diplomasi mempercepat terjadinya keruntuhan. Ada analisis tentang faktor eksternal: tekanan Mongol, konflik militer, dan juga pengkhianatan dalam internal pemerintahan—perdana menteri yang mengambil peran besar, provokasi lokal, dan kurangnya kesiapan mempertahankan kota.
Hal yang menarik: narasi bukan hanya korban Mongol datang menyerbu, tapi juga kota itu “terserah” karena sistem pemerintahan yang longgar; institusi melemah; rakyat merana akibat kelaparan dan inflasi; sumber daya militer yang dibebani dan terpecah.
Kejatuhan Baitul Maqdis
Baitul Maqdis (Yerusalem) bukan cuma kota suci, tapi juga simbol religius dan politik. Kejatuhannya ke tangan tentara Salib adalah salah satu peristiwa traumatis dalam sejarah Islam dan Kristen yang berlangsung abad-pertengahan. Zaghrut menggambarkan bagaimana persiapan pertahanan kurang matang, bagaimana kepemimpinan lokal dan rezim Islam di sekitar wilayah itu gagal melakukan koordinasi efektif terhadap ancaman eksternal.
Ada juga kajian dampak psikologis dan spiritual: bagaimana kejatuhan bukan hanya masalah wilayah, tapi dampak kepercayaan dan motivasi umat Islam di sekitarnya.
Kejatuhan Granada (Andalusia)
Tidak bisa dilepaskan dari rentang waktu delapan abad Islam di Spanyol, Granada adalah lambang keindahan, toleransi budaya (meskipun tak selalu sempurna), arsitektur memukau seperti Alhambra, perpaduan seni Islam-Arab dan budaya lokal. Zaghrut menelusuri faktor internal: konflik antar Muslim, perpecahan politik, intervensi kekuatan luar (kerajaan Kristen di utara), tekanan budaya, kurangnya kesatuan militer dan politik di antara negara kota Muslim di Andalusia.
Kisah emosional digambar pada penyerahan Granada: Raja Abu ‘Abdullah menyerahkan kunci kota, ratapan rakyat, dan pengaruh simbolik kehilangan ini masih dikenang sampai sekarang.
Runtuhnya Kekhalifahan Utsmani
Kekhalifahan Utsmani adalah benteng terakhir kekuasaan Islam sebagai entitas politik besar. Tapi di sini, lebih kompleks: modernitas, kolonialisme, nasionalisme, tekanan budaya dan teknologi, konflik internal, dan perubahan geopolitik Eropa ikut bermain. Zaghrut menggali bagaimana adaptasi yang terlambat terhadap sistem pemerintahan modern, korupsi, persaingan militer, kelemahan ekonomi, perang dunia, dan intervensi asing melemahkan kekuasaan Utsmani.
Ada pembahasan tentang hilangnya “rasa kekhalifahan” di antara rakyat, bagaimana identitas Islam yang dahulu menyatu dipisahkan oleh batas negara modern, dan bagaimana ide nasionalisme menggantikan loyalty terhadap institusi kekhalifahan.
Kelemahan atau Catatan Kritis
* Karena buku ini ditulis dari perspektif agama, ada kecenderungan untuk menekankan faktor moral-spiritual sebagai penyebab keruntuhan (misalnya kemewahan pemimpin, jauhnya para penguasa dari rakyat) yang agak sulit diverifikasi secara empiris.
* Sumber-sumber sejarah lama kadang memiliki versi yang berbeda, dan Zaghrut memilih narasi yang mendukung tema introspeksi dan moralitas. Beberapa detail mungkin lebih kuat sebagai tradisi keagamaan daripada dokumen sejarah yang bisa dicek silang.
* Buku kurang menekankan inovasi struktural atau alternatif yang pernah dicoba umat Islam di masa transisi, misalnya usaha reformasi internal, tapi lebih fokus pada “apa yang gagal”.
