Arkeologi Islam Nusantara

Arkeologi Islam Nusantara – Menyelami Jejak Islam dari Batu Nisan hingga Naskah Kuno


Pernahkah Anda berdiri di sebuah makam tua, menatap batu nisan beraksara Arab yang aus dimakan waktu, lalu bertanya: bagaimana jejak Islam pertama kali hadir di tanah air kita? Itulah pengalaman yang coba dihadirkan Uka Tjandrasasmita lewat bukunya Arkeologi Islam Nusantara.

Buku ini bukan sekadar tumpukan teori, melainkan sebuah perjalanan: dari pantai-pantai tempat pedagang Arab berlabuh, hingga lorong-lorong naskah kuno yang merekam denyut sejarah Islam di Indonesia.

Arkeologi Islam Nusantara

Isi & Poin-Poin Penting Tiap Bagian


Bagian I – Arkeologi Islam dan Dinamika Kosmopolitanisme

Membahas bagaimana Islam masuk melalui jalur perdagangan maritim. Menggambarkan peran pelabuhan Nusantara sebagai simpul kosmopolitan, tempat bertemunya pedagang Arab, India, Cina, dan masyarakat lokal. Menariknya, penulis menekankan bahwa Islam datang bukan dengan pedang, melainkan lewat jalinan dagang dan budaya.

Bagian II – Arkeologi Islam dan Dinamika Lokal di Nusantara

Fokus pada situs-situs arkeologi: makam kuno di Sumatra, Jawa, hingga kawasan timur. Batu nisan dan arsitektur masjid menjadi "dokumen" yang bicara lebih banyak daripada teks. Bab ini memperlihatkan bagaimana Islam berakulturasi dengan budaya lokal—ornamen masjid mirip candi, atau nisan dengan motif khas daerah. di Sumedang, jejak arkeologi bisa merekonstruksi sejarah komunitas Islam setempat yang jarang tercatat dalam naskah.

Bagian III – Arkeologi Islam dan Penaskahan Nusantara

Mengupas naskah-naskah kuno sebagai warisan sejarah Islam: babad, hikayat, kitab keagamaan. Menunjukkan bagaimana filologi (ilmu teks) bisa berdampingan dengan arkeologi. Naskah bukan hanya catatan agama, tetapi juga cermin kesadaran sejarah masyarakat Muslim Nusantara.