Apakah Al-Qur’an Wahyu Ilahi? Menelusuri Jejak Sejarah Teks Suci
Di balik lembar-lembar Al-Qur’an yang dianggap sakral oleh miliaran umat Muslim, ada sebuah pertanyaan besar yang sering terabaikan: dari mana asal usulnya? Jay Smith, seorang peneliti dan penginjil yang dikenal tajam dalam kajian apologetika, menulis Apakah Al-Qur’an Wahyu Ilahi? sebagai usaha untuk menggugat klaim wahyu tersebut. Dengan pendekatan sejarah, filologi, dan perbandingan teks, buku ini menyelami asal muasal Al-Qur’an dan membandingkannya dengan kitab-kitab lain.
Bukan bacaan ringan, buku ini mengajak pembaca menelusuri dunia Arab abad ke-7, konteks penyusunan mushaf, serta kemungkinan sumber-sumber non-Islami yang ikut membentuk isi Al-Qur’an. Hasilnya: sebuah karya kontroversial, tapi penting, karena membuka ruang diskusi tentang kesejarahan teks agama.
![]() |
| Apakah Al-Qur’an Wahyu Ilahi? |
Isi & Hal-hal Menarik Tiap Bab
Bab 1 – Pendahuluan
Jay Smith membuka dengan pertanyaan mendasar: jika Al-Qur’an adalah wahyu ilahi, bukti sejarah dan manuskrip apa yang mendukung klaim ini?
Bab 2 – Sejarah Awal Islam
Mengulas situasi Jazirah Arab sebelum dan sesudah Muhammad. Smith menyoroti minimnya bukti arkeologis yang jelas terkait perkembangan Islam pada abad-abad awal.
Bab 3 – Manuskrip dan Kodifikasi
Bab penting yang membahas koleksi mushaf awal, perbedaan bacaan (qira’at), dan proses kanonisasi teks. Smith menekankan bahwa penyusunan Al-Qur’an jauh lebih kompleks dari narasi tradisional Islam.
Bab 4 – Sumber-sumber Non-Arab
Di sini ia menyinggung kemungkinan pengaruh literatur Yahudi, Kristen, dan Zoroastrian pada narasi Qur’ani, mulai dari kisah nabi hingga ajaran moral.
Bab 5 – Bahasa dan Struktur
Smith menyoroti aspek linguistik: kosa kata non-Arab yang masuk, kesamaan gaya dengan syair Arab pra-Islam, serta perbedaan gaya bahasa antar-surah.
Bab 6 – Perbandingan dengan Injil
Sebagai penginjil, ia menutup dengan perbandingan antara klaim wahyu Qur’an dan keutuhan Injil menurut tradisi Kristen.
