A World Without Islam
A World Without Islam —yang judul aslinya dilempar sebagai muslihat—mengundang kita memikirkan sebuah dunia tanpa Islam. Tapi Fuller tidak sekadar membiarkan imajinasi itu melayang; ia menguburnya dengan argumen tajam: konflik antara Timur dan Barat bukanlah produk agama, melainkan warisan panjang imperialisme, geostrategi, dan ambisi kekuasaan. Singkatnya: bahkan tanpa Islam, dunia barangkali akan tetap seperti sekarang —penuh gesekan dan persaingan.
![]() |
| A World Without Islam |
Isi & Keunggulan beberapa segmen naratif:
1. Mengusir Islam—Bayangan yang Menyesatkan
Fuller membuka dengan menyanggah ide bahwa Islam adalah akar konflik global. Ia menggunakan pendekatan teoretis pertama untuk menempatkan agama dalam konteks ide dan simbol—bahkan ketika digunakan sebagai pembenaran, bukan sebagai sumber konflik itu sendiri.
2. Benturan Barat–Timur: Latar Geopolitik Pra-Islam
Ia membawa kita melintasi keretakan internal Kekristenan Katolik versus Ortodoks dan Perang Salib, yang lebih lahir karena ambisi politik Eropa daripada perang agama tunggal .
3. Islam, Kekuasaan, dan Identitas Global
Tanpa Islam, kemungkinan besar kekuatan Barat akan lebih mudah menguasai wilayah Eurasia, tanpa menghadapi identitas civilizational yang menyatukan beragam kelompok “Muslim”.
4. Daripada Menyalahkan Agama—Imperialisme dan Kolektivitas
Buku ini menekankan bahwa rasa perlawanan di dunia Muslim lebih didorong oleh frustrasi terhadap imperialisme dan intervensi Barat, bukan karena penolakan terhadap modernitas.
5. Terorisme—Satu Bendera di Antara Banyak
Bukan hanya kelompok Muslim yang melakukan teror; sejarah mencatat berbagai bentuk kekerasan dan pembunuhan massal yang dilakukan kelompok non-Muslim—dari Inkuisisi, pembersihan etnik, hingga politik ekstrem di Eropa, Asia, dan Afrika.
6. Menutup dengan Optimisme Rasional
Fuller tidak hanya membongkar, tapi juga mengajak solusi: penyelesaian konflik Timur-Barat harus mulai dari isu nyata seperti Palestina, bukan sekadar framing agama. Ia menyerukan berakhirnya dominasi militer, penerimaan demokrasi, dan pemulihan keadilan sejarah.
