1000 Mukjizat Rasulullah

1000 Mukjizat Rasulullah: Antara Fakta, Iman, dan Logika


Kalau ada buku yang isinya bukan sekadar cerita heroik, tapi kumpulan peristiwa supranatural yang bikin merinding sekaligus geleng-geleng kepala, inilah dia: 1000 Mukjizat Rasulullah. Bukan sekadar dongeng pengantar tidur, buku ini menjejalkan kepada kita ratusan kisah mukjizat yang dipercaya datang dari Nabi Muhammad ﷺ, mulai dari air yang memancar dari jemari, makanan sedikit yang bisa kenyangkan pasukan, hingga prediksi tentang masa depan umat manusia.

1000 Mukjizat Rasulullah

Buku 1000 Mukjizat Rasulullah memang terdengar megah dari judulnya, seolah hidup Nabi Muhammad ﷺ dikelilingi peristiwa-peristiwa ajaib yang mustahil dibantah. Di bab awal, pembaca digiring untuk menerima definisi standar: mukjizat adalah hal luar biasa yang hanya nabi punya, tidak bisa ditiru manusia. Tentu saja, semua agama juga punya definisi serupa: Musa belah laut, Isa hidupkan orang mati, bahkan Buddha bisa jalan di air. Kalau semua klaim mukjizat itu benar, kita hidup di dunia yang penuh atraksi sulap tingkat dewa. Tapi anehnya, tak ada satu pun sejarawan independen dari Romawi, Persia, atau Tiongkok yang sempat menuliskan, “oh ya, kemarin bulan pecah dua.”

Berlanjut ke kisah mukjizat Nabi, deretannya makin seru: air keluar dari jari, batang kurma menangis ditinggal Nabi, dan makanan sedikit cukup untuk pasukan. Bagi orang beriman, ini bukti cinta Allah pada utusan-Nya. Tapi dari kacamata logika, kisah-kisah ini lebih mirip cerita motivasi untuk menaikkan moral pasukan yang lapar dan takut kalah perang. Lucunya, mukjizat sebesar “bulan terbelah” hanya dicatat dalam hadis internal, padahal dunia kuno sudah punya astronom yang rajin mencatat gerhana dan bintang jatuh. Apa mungkin bulan pecah tapi hanya dilihat segelintir orang di Mekah?

Kisah doa Nabi juga penuh warna: ada yang sakit langsung sembuh, ada pedagang yang mendadak sukses. Kisah seperti ini tidak asing, karena hampir semua agama punya cerita tokoh suci yang bisa menyembuhkan. Pertanyaannya, apakah ini betul mukjizat, atau sekadar efek psikologis — placebo zaman kuno yang diberi label sakral?

Bagian yang paling sering diangkat adalah Al-Qur’an sebagai mukjizat abadi. Di sini narasi menjadi lebih filosofis: katanya Qur’an tidak bisa ditandingi bahasanya, konsisten meski turun 23 tahun, dan bahkan memuat ilmu modern. Padahal, keindahan sastra itu relatif: orang Arab bisa bilang Qur’an tak tertandingi, tapi bagi non-Arab, bagaimana menilainya? Lalu klaim sains dalam Qur’an sering berujung cocoklogi: sperma dari sulbi, matahari tenggelam di lumpur, bumi dibentangkan. Kalau semua itu disebut “teori ilmiah,” maka sains modern bisa pensiun dini.

Di bagian tanda-tanda kiamat kecil, pembaca disuguhi ramalan: fitnah merajalela, pemimpin bejat jadi idola, gempa dan bencana datang silih berganti. Ajaibnya, nubuat model begini bisa dipakai kapan saja. Zaman Umayyah? Cocok. Zaman sekarang? Apalagi. Seolah-olah ramalan kiamat adalah template abadi: dunia makin rusak, akhir zaman sudah dekat. Cocok untuk memompa rasa was-was umat di setiap era.

Namun, justru di situlah daya tarik buku ini. Kalau dibaca dengan iman, kita akan terpukau. Kalau dibaca dengan logika, kita akan mengernyit. Dan kalau dibaca dengan sedikit sarkasme, kita akan sadar: mukjizat sering kali lebih banyak bercerita tentang kebutuhan manusia akan hal-hal luar biasa, ketimbang tentang fakta sejarah.